Mencari Hidden Value Pada Sebuah Produk

Mencari Hidden Value Pada Sebuah Produk – Tips Bisnis Hendri Gunawan

Saat ini, mengembangkan produk atau jasa berdasarkan suara konsumen merupakan hal yang sangat mutlak. Seiring dengan semakin banyaknya pesaing, konsumen semakin memiliki banyak alternatif produk atau jasa sejenis dari berbagai merek sebagai pilihannya. Posisi tawa-menawar konsumen semakin tinggi.

Sebagai contoh adalah produk telepon genggam yang masuk ke pasar domestik. Beragam pilihan model dari puluhan merek ditawarkan dengan harga yang sangat beragam dan kompetitif. Konsumen hanya perlu menyesuaikan dengan kemampuan dan seleranya.

Cara membeli menjadi semakin mudah. Konsumen hanya perlu menyesuaikan dengan kemampuan dan seleranya. Cara membeli menjadi semakin mudah, konsumen dapat membayar secara tunai, menggunakan fasilitas kartu kredit yang dapat dicicil setiap bulan, ataupun dengan menggunakan kartu debit saja.

Sangat berbeda dengan kondisi 10 tahun yang lalu. Saat itu, konsumen tidak mempunyai banyak pilihan. Produk dan merek yang ada amat terbatas. Harganya juga relatif mahal, demikian juga dengan harga sim card yang tersedia 10 tahun lalu sangat terbatas dan sulit diperoleh.

Maklum, kala itu hanya terdapat tiga penyedia layanan seluler GSM, yaitu Telkomsel, Indosat, dan Exelcomindo. Jaringan layanan juga masih terbatas pada kota-kota besar saja. Belum menyebar ke daerah lain, dan daerah-daerah yang terpencil.

Layanan berbasis CDMA kemudian masuk dengan menawarkan harga yang sangat kompetitif, di samping bertambahnya jumlah operator GSM baru yang masuk. Jika dulu, konsumen sangat kesulitan mendapatkannya (terutama kartu perdana sim card ), kini yang terjadi adalah kebalikannya.

Kita mungkin masih ingat betul, tahun 2000-2002 dibutuhkan uang ratusan ribu rupiah untuk mendapatkan satu nomor perdana GSM. Itu pun sangat sulit mendapatkannya.

Kini, kartu perdana GSM dapat diperoleh dengan mudah di pinggir jalan dengan harga yang murah. Pengetahuan konsumen akan produk-produk berbasis teknologi tinggi juga semakin baik dan berkembang.

Konsumen akan dengan mudah mengajukan keluhan (complain) apabila mereka mendapatkan produk yang menyimpang dari spesifikasi yang ditawarkan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para produsen, khususnya bagian pengembangan produk (produk development).

Bagian pengembangan produk perlu memerhatikan keinginan atau suara konsumen dengan bijak. Setiap pengembangan produk baru membutuhkan biaya besar.

Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis memadai untuk memastikan produk tersebut mempunyai peluang yang bagus dan dapat di terima pasar atau tidak. Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, pengembangan produk tersebut harus lebih kreatif lagi. Harus ada sesuatu yang berbeda yang harus ditawarkan.

Dengan cara-cara pengembangan nilai value ( hidden value). Maka produk yang ditawarkan tersebut berpeluang di terima pasar dengan antusiasme yang baik.

Cara Menggali Hidden Value

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui nilai (value) yang dibutuhkan konsumen. Survei, wawancara (interview) atau Focus Group Discussion (FGD) umumnya cukup efektif untuk mengetahui value yang diinginkan oleh para calon konsumer. Selanjutnya, data-data hasil survei lapangan diproses dan dianalisis untuk memastikan value mana saja yang potensial dan dibutuhkan pelanggan.

Pada umumnya, kesuksesan perusahaan dengan produk inovatif dan unggul dicapai ketika mereka dengan kreatif menangkap nilai-nilai tersembunyi (hidden value). Kadang kala, konsumen tidak mengungkapkannya ketika wawancara dilakukan. Namun, ketika produk diluncurkan ke pasar, terdapat nilai yang sesungguhnya sangat diminati oleh konsumen.

Berbeda dengan produk atau jasa yang pada umumnya tersedia saat ini, penggalian buyer value potensial memang bukanlah pekerjaan yang mudah. Kendati begitu, beberapa pakar bisnis memberikan beberapa panduan untuk menggali nilai  hidden value pada sebuah produk.

Tokoh W. Chan Kim dan Renee Mauborgne misalnya, ia memberikan beberapa cara jitu untuk menggali hidden value. Sebagai misal begini.

Misalnya konsumen membeli kendaraan karena manfaat fungsionalnya sebagai alat transportasi, seorang enterpreneur dapat mengadakan survei untuk mengetahui manfaat  fungsional pembelian kendaraan tersebut.

Metode ini mengandalkan instrumen penilaian yang disebut kuesioner. Manfaat fungsional bersifat rasional, dan dapat diungkapkan oleh konsumen.

Oleh karena itu, manfaat tersebut sering ditanyakan dalam kuesioner. Misalnya ketika seorang enterpreneur ingin mencari tahu seberapa besar kecenderungan konsumen membeli produk karena manfaat fungsionalnya, maka seluruh manfaat tersebut harus dicantumkan dalam kuesioner.

Selain itu, seorang enterpreneur beranggapan bahwa konsumen membeli produk karena produk tersebut memiliki manfaat sosial. Misalnya ketika konsumen menggunakan mobil Marcedez-Benz, maka mereka akan mendapatkan respons sosial secara positif.

Oleh karena itu, untuk mendapatkan informasi manfaat sosial, digunakan Focus Group Discussion (FGD). FGD bermanfaat ketika seorang enterpreneur akan mencari tahu seberapa besar kecenderungan konsumen untuk mendapatkan respons positif bila konsumen menggunakan produk tertentu.

Bila metode survei dan FGD mampu menemukan jawaban tersebut, tentunya peluncuran produk baru akan mengalami kesuksesan. Namun pada kenyataannya, perilaku konsumen sendiri ini sering tidak konsisten antara perkataan dan perbuatannya.

Sebagai contoh, ketika produsen produk pembasmi serangga elektrik meluncurkan produk barunya. Mereka melakukan survei dengan penyebaran kuesioner. Produsen mendapatkan respons tentang manfaat fungsional produk yang bersifat rasional dan dapat diungkapkan oleh konsumen.

Sebagian  besar  kuesioner yang masuk menunjukkan bahwa ada kesan konsumen cenderung membeli produk tersebut sehingga produsen segera memproduksinya. Namun setelah berjalanya waktu, ternyata volume penjualannya tidak menunjukkan angka yang menggembirakan.

Hasil penyebaran kuesioner jauh dari minat konsumen kenyataannya. Akhirnya, produsen memutuskan untuk memanggil seorang etnografer.

Etnografer mengamati secara menyeluruh perilaku konsumen. Ternyata mayoritas responden kuesioner tersebut adalah ibu-ibu.

Dari perilaku sehari-hari responden, etnografer memperoleh informasi bahwa mereka sering dimarahi suaminya sepulang dari kantor. Perlakuan suami tersebut menyebabkan responden menuangkan kekesalannya melalui kenikmatan membunuh serangga dengan menyemprotnya.

Dalam pengamatan seorang etnografer pemasaran, mereka menyaksikan bahwa responden menikmati matinya serangga tersebut melalui semprotan obat serangga. Menariknya, perilaku ini tidak terungkap melalui kuesioner.

Kuesioner yang tidak dapat membaca perilaku konsumen yang seperti ini tentu saja cukup riskan. Artinya, kuesioner memiliki sejumlah kelemahan untuk mengukur nilai value sebuah produk.

Kuesioner tidak dapat menguji, motif pelaku dalam membeli suatu produk tujuannya untuk apa. Juga tidak semua perilaku konsumen dapat dinyatakan secara eksplisit, motivasi pembelian, maupun latar belakang sosialnya.

Karena penyebaran sistem kuesioner itu memiliki sejumlah kelemahan. Maka kuesioner tersebut harus diimbangi dengan penelitian etnografi.

Sebuah perusahaan besar harus memiliki seorang etnografer. Nantinya seorang etnografer ini di terjunkan ke dalam kehidupan masyarakat.

Seorang etnografer akan mempelajari kebudayaan, dan sistem sosial yang berkembang pada masyarakat tersebut. Misalkan saja pada sasaran target produknya adalah masyarakat di Kota Pekalongan, maka seorang etnografer tersebut harus terjun di masyarakat untuk mengamati kebudayaannya.

Di Pekalongan seperti yang kita ketahui adalah kota dengan industri batik yang amat menggurita. Maka bila kalian bergerak pada industri catring makanan, box makanan pada catring tersebut bisa kalian bubuhkan motif batik sesuai pengamatan etnografer tadi. Dengan begitu, potensi produk tersebut diminati masyarakat akan semakin besar.

Who is Hendri Gunawan

Sebagai Praktisi SEO pekerjaan menulis menjadi salahsatu hal yang harus terus dipelajari. Didalam blog sederhana ini, saya Hendri Gunawan, ingin berbagi cerita, menyampaikan unek-unek, hingga melakukan promosi, namun tetap sambil belajar dan mengembangkan kreatifitas untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BACK
%d bloggers like this: