Makna Akronim Jaman Now, Bikin Praktis atau Ribet?

0

Saya agak geli sekali, ketika teman-teman saya melakukan penyingkatan kata-kata menjadi istilah baru. Dalam hati saya kok, penyingkatan tersebut bukan akan mempermudah penyampaian pesan menjadi lebih mudah dipahami.

Tapi justru malah merusak daya kepahaman si penerima pesan, serta menghancurkan ciri kebahasaan Indonesia itu sendiri.

Saya tidak yakin penyingkatan beberapa kata menjadi kata baru seperti pada kata buka bersama menjadi “bukber”. Akan memperkaya khazanah bahasa Indonesia. Saat mendengar pertama kali kata bukber dari teman-teman.



Saya kok mendengarnya sebagai “puber”.  Maksudnya apa ya mengajak puber ? Bukanya saya sudah dewasa begini. Tidak puber lagi. Temanku kemudian mengingatkan bukan puber, tapi bukber. Yang merupakan akronim dari buka bersama.

Selain kesalah pendengaran pada kata bukber. Saya juga mengalami miss persepsi pada saat teman mengucapkan kata “ baper”.

Lagi-lagi di awal pertama kali mendengar kalimat itu, saya mendengarnya berbunyi “wafer”. Ini maksudnya apa menuduh saya makan wafer.

Padahal saya kan tidak suka wafer. Teman saya kemudian memperingatkan lagi ke saya yang telinganya sedikit kurang jernih. “Bukan wafer, tapi baper yang merupakan akronim dari kata bawa perasaan.” Begitulah katanya.

Melihat beberapa macam gaya akronim semacam kata bukber, dan kata baper. Nampaknya ada sesuatu yang janggal, dan merugikan estetika bahasa Indonesia yang sudah lama dikenal sebagai bahasa yang memiliki ke jelasan intonasi.

Penggunaan akronim semacam ini jelas akan membuat si penerima pesan kebingungan mencerna informasi. Kata bukber, dan baper masih mending.

Ada akronim yang jauh lebih parah unsur intonasinya. Misalnya saja pada akronim “bebuh” yang merupakan akronim dari bersetubuh. Walah bersetubuh pun ada akronimnya juga ya. Adanya kemunculan akronim berupa bukber, baper, hingga bebuh.

Tak perlu ditolak lagi, munculnya berbagai penggunaan akronim dalam masyarakat memang begitu sangat pesat. Tidak hanya anak-anak muda yang fasih membuat akronim seperti baper, bukber dan bebuh.



Tokoh-tokoh politisi pun ikut-ikutan latah. Bahkan beberapa usaha kuliner. Banyak yang menggunakan akronim sebagai unsur trademark kuliner supaya terlihat tampak menarik.

Pada kuliner berupa minuman misalnya akronim sule (susu kedele), atau minuman Jerman. Bukan minuman yang dari negara Jerman lho ya.

Tapi merupakan akronim dari jeruk manis hangat. Adanya fenomena penggunaan akronim baru ini menarik penulis untuk melakukan dialektika, dan bertanya dalam hati.

Pertanyaan itu adalah, apakah akronim yang muncul belakangan ini sudah sesuai dengan syarat-syarat diakuinya sebuah akronim ? Apakah Tata Bahasa Baku Indonesia sudahlah memuat akronim-akronim tersebut.

Saya akhirnya mulai membuka KKBI edisi V. Saya baca, dan hayati betul apa sesungguhnya akronim itu. Dalam kamus KKBI V disebutkan bahwa akronim artinya sebagai kependekan yang bersumber dari gabungan huruf, maupun suku kata. Misalnya Mayjen (Mayor Jendral) maupun Polsek (polisi sektor).

Setelah saya tahu, apa itu pengertian akronim.  Saya kemudian membandingkan pengertian akronim di KKBI V dengan sebuah akronim yang sedang populer belakangan ini.

Yaitu kata akronim “Jerman” yang merupakan pemendekan dari kata jeruk manis. Dengan merujuk pada catatan KKBI V

Jerman sebetulnya tidak bisa disebut sebagai akronim. Jika Jerman merupakan kependekan daripada jeruk manis. Maka sesuai dengan hakikat akronim. Mestinya di akronimkan dengan “jermaha”. Jermaha merupakan kependekan dari “jeruk manis hangat”.

Kesalahan pada penggunaan akronim Jerman kalau di teliti. Agaknya masyarakat jaman now lebih suka menggunakan kependekan yang lebih mudah diingat. Jerman dengan jermaha yang betulkan jermaha.

Tapi masyarakat lebih suka menggunakan Jerman untuk penyebutan jeruk manis hangat yang lebih mudah diingat. Walaupun dinilai dari hakikat akronim sangat  keliru.



Salma Sunaiyah dalam bukunya berjudul Menghindari Kesalahan Berbahasa Indonesia Baku Melalui Ragam Jurnalistik menganalisis fenomena ini sebagai era kesemrawutan berakronim yang mengedepankan suka mana suka.

Saya setuju dengan pendapat Salma Sunaiyah. Bahwa munculnya banyak istilah-istilah akronim di masyarakat kita ini disebabkan oleh kepraktisan, dan hal-hal instan yang menjangkiti masyarakat.

Kendatipun akronim-akronim yang semrawut seperti itu, cukup mengganggu keindahan dalam berbahasa karena tidak sesuai dengan konvensi perspektif sosiolinguistik.

Hal ini menjadi kesempatan emas, serta lahan subur bagi pemerhati bahasa, ahli linguistik, serta pemerintah secara serius. Para pihak-pihak yang berkompeten dalam masalah kebahasaan.

Badan Bahasa yang mewakili pemerintahan seharusnya tidak diam mengatur peredaran akronim-akronim yang diciptakan masyarakat itu. Melihat begitu pesatnya penciptaan akronim oleh masyarakat. Mestinya Badan Bahasa merumuskan pedoman baku berkaitan dengan tata cara pembuatan akronim, dan singkatan. Kalau tak segera dibuat, bisa-bisa fatal akibatnya.

akronim memperkaya bahasa atau malah merusak bahasa indonesia |

About Author

Sebagai Praktisi SEO pekerjaan menulis menjadi salahsatu hal yang harus terus dipelajari. Didalam blog sederhana ini, saya Hendri Gunawan, ingin berbagi cerita, menyampaikan unek-unek, hingga melakukan promosi, namun tetap sambil belajar dan mengembangkan kreatifitas untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik lagi.

Leave A Reply

Loading...
%d bloggers like this: