Kebudayaan Indonesia Yang di Berangus Oleh Propaganda Terselebung

0

Kebudayaan Indonesia Yang di Barangus Oleh Propaganda TerselebungKi Hajar Dewatara pernah “menyemprit” Wakil Presiden Bung Hatta, karena tim paduan suara yang di undangnya ke Istana berpakaian terlalu kebarat-baratan. Para wanita yang berada di tim itu layaknya kekurangan bahan pakaian saja. Demikian ungkapnya yang ditulis dalam autobiografi nya.

Sementara presiden keempat Gusdur, pernah mengkritik sejumlah “ormas keagamaan” yang membuat fatwa, bahwa memakai cadar (niqab) adalah wajib hukumnya bagi perempuan. Menurut Gusdur, Cadar itu murni budaya Arab, dan pakaian yang sifatnya sekuler. Kewajiban bercadar bukan sebuah perintah Tuhan. Demikianlah, kata Gusdur.

Kalau dicermati. Dua cendekiawan besar yang pernah dimiliki Indonesia ini, hampir sama muatan kritikannya. Yaitu sama-sama mengkritik orang-orang yang fanatik dengan budaya negara lain, tapi tidak fanatik terhadap kebudayaan di tanah air sendiri. Baik yang terlalu fanatik pada Kebudayaan Barat, maupun yang terlalu fanatik dengan kebudayaan Timur Tengah.



Kedua cendekiawan itu ingin rakyat Indonesia melek, bahwa kebudayaan Indonesia baik dalam cara berpakaian, maupun cara bergaul sudah sangat cocok di terapkan di Indonesia.

Jika kita cermati, meniru-biru cara berpakaian negara lain memang kurang tepat. Misalnya saat orang Indonesia mencoba meniru berpakaian ala Timur Tengah menggunakan jubah (abaya). Secara fashion memang cocok-cocok saja, tapi secara fungsionalitas penggunaan jubah ini tidak cocok digunakan di Indonesia yang lingkungannya bukan sebuah padang pasir, layaknya di Timur Tengah.

Demikian juga saat orang Indonesia mencoba meniru-niru gaya berpakaian mini hot pan ala orang Barat. Sama sekali tidak fungsionalitas karena secara iklim sangat berbeda. Barat yang notabene bercuaca dingin sih ya pantas saja perempuannya menggunakan hot pan, supaya saat cuaca panas tiba, tubuhnya bisa ter hangatkan oleh sinar matahari.

Tapi kalau hot pan itu di gunakan di Indonesia yang notabene bercuaca tropis kan malah akan merugikan si pemakainya. Kulit bisa gosong, karena sinar matahari mengenai kulit, yang tidak berlapis pakaian.

Dalam kondisi seperti itulah seharusnya kita menyadari bahwa pakaian khas ala Indonesia seperti batik, kebaya, sanggul, maupun sarung sudah pas sekali digunakan di Indonesia. Batik misalnya, sangat pas sekali di gunakan masyarakat Indonesia untuk pergi berkondangan karena batik memiliki filosofi yang kalem. Jadi penerimaan yang memiliki hajatan, biasanya akan senang hati menyambut orang yang berbaju batik tadi.



Hanya saja, orang Indonesia kini sudah mulai melupakan kebudayaannya sendiri. Perang ideologi dua arus dunia, Barat, dan Timur Tengah saat ini sedang mencoba memberangus kebudayaan Indonesia baik cara berpakaian, maupun kebudayaan yang lainya.

Mereka memberangus kebudayaan Indonesia lewat berbagai propaganda terselubung yang sangat masif lewat media  televisi. Orang-orang yang ahli dalam menyantet, dan spesialis penggugur bayi, sering digambarkan dalam televisi berpakaian blangkon, yang merupakan simbolitas Budaya Jawa, dan Sunda. Padahal Budaya Jawa, dan Sunda tak buruk seperti itu.

Orang-orang Indonesia, lewat sinetron juga sudah digempur oleh Kebudayaan Timur Tengah. Maka biasanya, karakter orang-orang suci sering digambarkan memakai baju khas ala Timur Tengah.

Sedangkan kebudayaan Barat juga tak kalah merecoki kebudayaan Indonesia yang adi luhung itu menjadi buruk. Maka dibentuklah “proxy war” lewat sinetron di mana tokoh yang mengenakan batik, memakai sarung, memakai konde, maupun memakai blankon sebagai orang yang kolot, bodoh, miskin, dan tak intelek. Para remaja zaman sekarang kemudian terpengaruh, lalu meninggal pakaian khas Indonesia biar tak dianggap bodoh. Padahal nyatanya, keintelekan orang Indonesia yang digambarkan dalam buku The Histori of Java, karya Rafles sangat benar adanya.

About Author

Sebagai Praktisi SEO pekerjaan menulis menjadi salahsatu hal yang harus terus dipelajari. Didalam blog sederhana ini, saya Hendri Gunawan, ingin berbagi cerita, menyampaikan unek-unek, hingga melakukan promosi, namun tetap sambil belajar dan mengembangkan kreatifitas untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik lagi.

Leave A Reply

Loading...
%d bloggers like this: