Indonesia Damai Jika Kita Tahu Fakta Pluralitas dan Saling Memahami

0

Pluralitas dan pluralisme memang kadang sering disalahpahami oleh sebagian komunitas agama, gara-gara salah baca, salah paham, atau mungkin kurang akurat dan komprehensif dalam menelaah makna konsep pluralisme ini, dulu MUI pernah memfatwa haram atas pluralisme.

Alasan MUI waktu itu, kira-kira, paham pluralisme telah mencampur-adukan paham keagamaan, penyamarataan doktrin kebenaran yang secara esensial bertentangan dengan Islam sebagai satu-satunya jalan kebenaran. Disini tampak sekali kalau MUI kebingungan membedakan antara pluralisme dengan sinkretisme, relativisme, atau singularisme.


Begini, pluralisme itu adalah semacam filosofi atau pandangan dunia untuk menyikapi fakta-fakta pluralitas atau kemajemukan secara terbuka, open-minded, dan toleran. Pluralitas adalah sesuatu yang bersifat alami, sedangkan pluralisme bersifat kultural. Tidak seperti pluralitas yang merupakan pemberian atau anugerah Tuhan, pluralisme adalah sebuah “prestasi” bersama dari kelompok agama, etnis, dan budaya yang berlainan untuk menciptakan sebuah “masyarakat bersama”.

Dengan kata lain, pluralisme adalah sebuah proses pergumulan kreatif-intensif terhadap fakta pluralitas itu yang bertujuan menciptakan sebuah “komunitas bersama” yang saling menghargai keragaman dan keunikan masing-masing agama dan budaya. Pluralitas baru akan menjadi pluralisme, jika masing-masing umat bersedia membuka ruang dialog yang sehat dan pergumulan yang intensif.

Menurut pakar studi pluralisme dari Harvard Univeristy, Profesor Diana Eck, pluralisme tidak sekedar toleransi, melainkan sebuah proses pencarian pemahaman secara aktif menembus batas-batas perbedaan. Pluralisme juga beda dengan sinkretisme atau paham percampur adukan keagamaan seperti New Age misalnya.

Pluralisme juga bukan berarti penyamarataan ajaran. Yang terakhir ini namanya “singularisme”,bukan “pluralisme”. Pluralisme juga bukan relativisme karena dalam pluralisme ada semacam “perjumpaan komitmen” yang absen dalam relativisme.

Seorang pluralis bukan berarti seorang yang menanggalkan identitas keagamaan, dan komitmennya terhadap agama tertentu karena inti dari pluralisme adalah perjumpaan komitmen untuk membangun hubungan sinergis satu dengan yang lain. Seorang pluralis bukan berarti tidak mengakui eksistensi perbedaan agama sebab perbedaan itu adalah sebuah fakta-fakta sosial yang tidak bisa diabaikan, akan tetapi, bagi seorang pluralis, perbedaan agama itu dijadikan sebagai sumber bagi hubungan agama yang sehat, saling menghormati, serta sebagai kekuatan pemersatu, bukan sebaliknya, melihat perbedaan itu sebagai faktor pemecah yang mengancam identitas keagamaan dan kebudayaan tertentu.

Selanjutnya, pluralisme itu dibangun diatas basis dialog. Bahasa pluralisme adalah bahasa dialog dan perjumpaan, saling menerima dan memberi, serta mau melakukan kritik diri.

Dialog berarti berbicara sekaligus bersedia mendengarkan orang dan umat lain. Proses dialog itu harus berusaha menciptakan pemahaman bersama atas fakta-fakta perbedaan dengan sikap hormat dan saling menghargai. Perlu juga dicatat bahwa dialog berbeda dengan debat. Dalam dialog target yang hendak dicapai adalah saling memahami bukan saling mengalahkan seperti dalam debat. Tidak ada kalah-menang dalam dialog.


Inilah makna ketika Al-Qur’an menegaskan “bahwa diciptakannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah untuk saling mengenal” (Q. 49:13). Kalimat “berbangsa-bangsa” dan “bersuku-suku” adalah fakta pluralitas sementara “untuk saling mengenal” (ta’aruf) adalah pemahaman tentang pluralisme tadi. Karena itu fakta pluralitas itu baru bisa dipahami jika kita umat beragama memiliki komitmen untuk berdialog yang merupakan ruh dari pluralisme.

Sedangkan Al-kitab juga menerangkan ”Sebab haruslah kamu menunjukan kasihmu kepada orang asing, sebab kamu pun dahulu orang asing di tanah mesir.” Ulangan 10:19

Sementara itu menurut sudut pandang Budha, Raja Asoka pernah membuat dekret di sebuah batu cadas gunung yang hingga kini masih dapat di baca, yang berbunyi : “… barang siapa menghormat agamanya sendiri dengan mencela agama lain – semata – mata karena dorongan rasa bakti kepada agamanya dengan berpikir ‘ bagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiri ‘ maka dengan berbuat demikian ia malah amat merugikan agamanya sendiri … “

Dalam kerangka pemikiran ini, pluralisme setingkat lebih tinggi dari toleransi. Dalam toleransi tidak dibutuhkan pengetahuan (knowledge) dan pemahaman (understanding) atas “yang lain” sementara pluralisme mengsyaratkan keduanya. Meskipun toleransi itu baik dan perlu dalam hubungan antar-agama, tetapi tidak cukup kuat sebagai landasan dialog antar dan intra-agama. Sebab “budaya toleransi” ini masih rawan dan rapuh untuk disusupi dan diprovokasi pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan agama dan politik.

Demikian penjelasan singkat mengenai pluralisme. Kalau masih bingung, silakan baca dan renungkan terus-menerus. Jika otak sudah sampai tahap, ngebul silahkan minum kopi dulu.

About Author

Sebagai Praktisi SEO pekerjaan menulis menjadi salahsatu hal yang harus terus dipelajari. Didalam blog sederhana ini, saya Hendri Gunawan, ingin berbagi cerita, menyampaikan unek-unek, hingga melakukan promosi, namun tetap sambil belajar dan mengembangkan kreatifitas untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik lagi.

Leave A Reply

%d bloggers like this: