Generasi Micin ? Ini Faktanya Tentang Micin

0

Micin sering sekali dituduh sebagai sumber kekacauan dimana para pengkonsumsinya akan di anggap sebagai generasi “govlok”. Baik di sosial media, atau di dunia nyata kita akan dengan mudahnya menganggap orang yang mempunyai nalar ciut dikarenakan kebanyakan makan micin. Oleh karenanya micin lah yang menjadi tersangka utama penyebap kegovlokan yang berkembang di masyarakat kita.

“Generasi micin” kemudian menjadi jargon utama, dari simbolitas kebodohan yang dilakukan seseorang. Lha kok micin yang disalahkan, apa memang benar mengkonsumsi micin itu bisa mengakibatkan kebodohan.

Lagian ya aneh, masa sih ada orang yang melakukan kesalahan, tapi malah micin yang di permasalahkan. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu membuka beberapa penelitian tentang micin yang sudah banyak di publikasikan di jurnal kesehatan terkemuka. Kita bisa menjumpainya di jurnal internasional seperti sciencedirect maupun scopus.




Micin alias monosodium glutamat (MSG), merupakan zat ekstraktif pada makanan yang berguna untuk menyedapkan rasa makanan supaya enak. Dewasa ini pemakain micin pada makanan banyak ditakuti orang-orang karena bisa menyebapkan kangker, atau lebih konyol bisa mengakibatkan kebodohan permanen.

Ketakutan berlebih terhadap micin ini barangkali dipicu oleh peristiwa di tahun 1959. Ketika itu ada seseorang yang mual saat makan masakan China yang mengandung MSG. Peristiwa ini lebih sering dikenal sebagai Chinese Restaurant Syndrome (CRS).

Semenjak peristiwa ini terjadi munculah beberapa orang yang resah dengan efek samping yang ditimbulkan MSG, atau micin ini. Walaupun sebetulnya sudah banyak penelitian moderen yang menunjukkan micin tak berbahaya bagi tubuh. Hal ini ditegaskan oleh temuan proffesor dari Jepang bernama, Kikunae Ikeda.

Menurut Kikunae Ikeda micin itu sebetulnya bersifat alamiah. Sejak bayi kita malah sudah mengkonsumsi micin.

Sebagaimana kita ketahui, micin ini mengandung senyawa glutamat. Senyawa glutamat atau penyedap rasa ini biasanya ditemui secara alami pada tumbuhan jamur, kecap, keju, brokoli, hingga Air Susu Ibu (Asi).

Jadi orang yang suka mengasosiasikan bahwa orang yang bertindak bodoh itu kebanyakan makan micin itu sebetulnya sedang menunjuk dirinya juga. Ia tak sadar bahwa micin sudah dikonsumsinya sejak kecil lewat pemberian ASI.


Kalau ada yang sok-sokan anti micin, masa iya sih anaknya tak akan diberikan ASI yang mengandung senyawa micin itu, kayanya tak mungkin.

Berdasarkan kajian diatas bahwa micin mengandung glutamat alami dalam sayuran, serta bahan nabati lain. Maka agak setengah munafik ketika ada restauran atau warung makan yang mengklaim masakanya terbebas dari micin. Karena semua sayuran, maupun bahan nabati yang digunakan untuk memasak pada dasarnya mengandung senyawa glutamat.

Terlalu banyak memberikan micin memang bisa membuat perut menjadi eneg, tapi dengan catatan jika micin yang ditaburkan dalam masakan lebih dari satu sendok teh, ya tak masalah. Nah fakta yang dijumpai kan tidak pernah lebih dari itu.

Jadi, Kampanye anti micin dari para kaum Front Anti Micin yang dihembuskan oleh generasi kids zaman now itu sebetulnya keliru, dan harus diluruskan.

Micin tidak membuat pengkonsumsinya menjadi bodoh. Justru berkat micinlah anak-anak yang tidak suka sayur karena rasanya yang pahit itu bisa menyukainya, karena telah berubah menjadi lebih maknyos ketika dibubuhi micin.

Micin jugalah yang membuat berbagai masakan Indonesia seperti rendang, sate, nasi goreng, dan mie ayam begitu lezatos, gurihtos, manteptos, dan maknyos di lidah kita.

Jadi mulai sekarang bertobatlah kepada micin, dan mulai menyadari bahwa micin bukanlah yang menyebakan seseorang menjadi bodoh. Karena yang membuat bodoh itu adalah malas membaca.

About Author

Sebagai Praktisi SEO pekerjaan menulis menjadi salahsatu hal yang harus terus dipelajari. Didalam blog sederhana ini, saya Hendri Gunawan, ingin berbagi cerita, menyampaikan unek-unek, hingga melakukan promosi, namun tetap sambil belajar dan mengembangkan kreatifitas untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik lagi.

Leave A Reply

%d bloggers like this: