Asal Usul Jilbab, Pakaian Yang Sempat di Larang digunakan di Indonesia

Asal Usul Jilbab, Pakaian Yang Sempat di Larang digunakan di Indonesia

Sejak meletusnya revolusi Iran pada sekitar tahun 80-an. Masyarakat Indonesia lebih tampak agamis, terutama masyarakat Muslim.

Simbol-simbol agamis itu ditunjukkan dengan pakaian syari’i. Dalam hal ini pakaian saya’ri yang dimaksud adalah jilbab.

Padahal, sebelum era 80-an jilbab sebetulnya belum begitu dikenal oleh masyarakat Indonesia. Kalaupun ada yang memakainya, jumlahnya tidak seberapa. Paling hanya satu, dua saja yang memakainya.

Di era pemerintahan Soeharto, penggunaan jilbab memang dilarang. Pelarangan jilbab tersebut di dasari oleh kekhawatiran hilangnya tradisi menggunakan konde bagi wanita.

Kekhawatiran berlebih ini kemudian menghasilkan sejumlah kebijakan yang dianggap komvrontarif. Jilbab di larang dipakai saat sedang berkantor bagi PNS. Begitu juga aturan ini ditetapkan di sekolah-sekolah kalau jilbab tidak boleh dipakai.

Setelah tumbangnya rezim Soeharto pada tahun 1998. Penggunaan jilbab makin kesini makin semarak saja. Istilah jilbab syar’i pun kini muncul.

Apa yang dimaknai sebagai jilbab syar’i di era sekarang yaitu kerudung yang dikombinasikan dengan gamis. Merujuk pada sejarah jilbab sendiri.

Apa yang disebut jilbab syar’i itu sebetulnya dibuat oleh manusia, pendefinisian jilbab syar’i hanya di dasari atas pemahaman manusia saja.

Dulu dua organisasi umat Islam di Indonesia NU, dan Muhammadiyah. Saat mereka mengenakan jilbab pada sekitar tahun 50-60an.

Jilbab yang dipakai sederhana saja, hanya selembar selendang yang mengikatkan di kepala, tanpa ada gamis seperti sekarang.

Gaya berjilbab ini banyak dipraktikkan oleh ibu-ibu Fatayat, dan ibu-ibu Aisyiyah.

Apakah Jilbab Itu Produk Kebudayaan Manusia ?

Jika kita merujuk pada penelitian Clifford Gertz dalam bukunya Religion of Java, maka jilbab ini bagian dari kebudayaan manusia.

Jilbab sebagai pakaian buatan manusia tentu tidak akan pernah statis karena mengikuti perkembangan zamannya.

Jika ada istilah jilbab syar’i sebagai sesuatu yang ajeg, atau berjilbab yang sah sesuai kepercayaan itu harus “bergamis, dan berkerudung seperti tren sekarang tentunya jilbab model seperti ini tak akan berlaku lagi setalah 100 tahun ke depan.

Pakaian tidak ada yang statis, melainkan pakaian selalu berubah modenya. Pemaknaan jilbab syar’i seperti itu hanya akan menghambat perkembangan mode.

Kita tahu sendiri kan, tren berpakaian masyarakat Indonesia pada awal abad ke 18. Yah, pakaian mereka kebanyakan memakai pakaian kamben bagi wanita, sementara yang laki-lakinya banyak memakai peci hitam (sekarang kopiah) untuk di pakai dalam segala aktivitas.

Penempatan pakaian tersebut telah hilang sekarang. Khususnya untuk pakaian kamben. Sedangkan peci hitam (kopiah) fungsinya tereduksi menjadi alat untuk beribadah saja. Padahal zaman dulu kopiah digunakan juga saat ke sawah, saat berkebun, dan segala aktivitas lainnya.

Mana yang Lebih Baik Berjilbab, Atau Berkebaya ?

Keduanya tidak ada yang lebih baik. Keduanya memiliki fungsi yang sama untuk menutupi tubuh.

Kesalehan wanita tidak dapat dinilai dengan pakaiannya. Karena pakaian itu hanya kulit saja.

Mau pilih berjilbab, atau pilih berkebaya tak ada masalah, hal itu kembali kepada kepercayaan masing-masing.

Toh, jilbab dan kebaya ini Cuma pakaian saja. Yang suatu saat pasti akan mengalami perubahan, hilang ditelan jaman, atau bahkan sudah tidak ada pemakainya lagi seperti pakaian model coboy di Amerika Serikat, maupun pakaian kamben di Indonesia.

Padahal pakaian-pakaian tersebut dulu diagamakan, disakralkan, dan terikat dengan norma teologis. Jadi berpakaianlah yang sopan saja, yang penting sesuai dengan norma-norma sekitar saja sudah beres.

Who is Hendri Gunawan

Sebagai Praktisi SEO pekerjaan menulis menjadi salahsatu hal yang harus terus dipelajari. Didalam blog sederhana ini, saya Hendri Gunawan, ingin berbagi cerita, menyampaikan unek-unek, hingga melakukan promosi, namun tetap sambil belajar dan mengembangkan kreatifitas untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BACK
%d bloggers like this: